tokoh-tokoh film dari negara luar

KAN LUME ( SINGAPORE )

 

Kan meninggalkan pekerjaannya demi mengejar karir di dunia film. Dengan hanya mengikuti sekolah film selama setahun dia merasa sudah saatnya untuk berkarya, akan tetapi hal itu hanya bisa dilakukan dengan dua kondisi, membuat cerita sendiri dan membuat filmnyadengan cara sendiri. Pada tahun pertama karirnya di dunia film, Kan sudah membuat 10 film pendek dimana pemainnya adalah anggota keluarga. Pada tahun kedua karirnya, ia membuat film pendek dan menyutradarai film-film tersebut. Kali ini teman-tamannya yang menjadi cast-nya. Pada tahun 2005, Kan membuat feature film pertamanya yang berjudul The Art of Flirting. Dimana film ini menjadi Top Honour di 10th Malaysian video Awards untuk kategori film terbaik ASEAN.

Gertjan Zuilhof (Belanda)

 

Lulusan fakultas sejarah seni dari Laiden University ini merupakan pria berkebangsaan Belanda yang sangat cinta akan seni. Gertjan merupakan seorang kritikus film. Ia menulis untuk The Cinema Monthly Skrien untuk beberapa lama. Sudah lebih dari satu dekade bergabung di International Film Festival Rotterdam (IFFR) sebagai seorang programmer yang lebih memfokuskan ke film-film Asia khususnya Asia Tenggara. Selain itu Gertjan juga menjadi salah seorang anggota dari Selection Committee di Hubert Bals Fund sebuah lembaga pendanaan untuk film.

Dorothee Weener (Jerman)

 

Selain sebagai Direktur di Berlinale Talent Campuss, Berlin International Film Festival, dia juga merupakan filmmaker dan jurnalis freelance yang berdomisili di Berlin. Dorothee merupakan salah satu anggota Selection Committee di International Forum of New Cinema (Berlinale Forum) semenjak tahun 1990. Ia juga merupakan perwakilan khusus Berlinale untuk India dan Sub Saharan Africa. Sebagai seorang documentary filmmaker dan penulis, Wenner mempunyai ketertarikan yang intens tentang isu-isu interkultural. Karena latar belakangnya inilah Wenner sering diundang sebagai juri di berbagai festival film internasional dan institusi pendanaan film.

Dr. Deb Verhoeven (Australia)

 

Deb Verheoven adalah seorang penulis, broadcaster, kritikus film, komentator, dan juga seorang dosen. Deb sekarang menjabat sebagai associate professor di RMIT University dimana ia mengelola AFI (Australian Film Institute). Deb adalah CEO dari AFI pada tahun 2000-202.

 

Deb pernah menjadi juri di beberapa festival film internasional seperti: Bangkok Film Festival, Melbourne International Film Festival, St. Kilda Film Festival, Real Life on Film, Comedy Channel Short Film Festival, The Antennas, Watch My Shorts, Daffodil Day Awards. Debjuga merupakan anggota FIPRESCI (Federation Internationale de la Presse Cinematographique) dan Asosiasi kritikus film Australia. Deb merupakan anggota kehormatan wanita di Film dan Televisi, angota eksekutif di Forum Arsip (Archive Forum), anggota dewan editorial Studies in Australasian Cinema dan anggota dewan jurnal film online yang paling sukses, Sense of Cinema. Deb juga merupakan seorang penulis buku.

 

Pada tahun 2006, bukunya yang berjudul “Sheep and the Australian Cinema was” diterbitkan. Pada tahun 1999 ia mengedit koleksi essay yang berjudul “Twin Peaks”: Australian and New Zealand Cinema (Damned). Pada tahun 2008 ini ia akan segera mempublikasikan buku terbarunya tentang sutradara Australia, Jane Campion.

Philip Cheah (Singapore)

 

Philip Cheah adalah direktur Singapore Film Festival dan Editor BigO, publikasi independent Pop Culture di Indonesia. Philip Cheah juga merupakan dewan penasihat dan kontributor Cinemaya, The Asian Film Quarterly dan juga anggota dewan NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema). Philip juga banyak bekerja sama dengan filmmaker dari berbagai Negara, seperti Garin Nugrojo pada tahun 2004 (And The Moon Dances/Bulan Tertusuk Ilalang), Noel Vera pada tahun 2005 (Critic After Dark: A Review of Philippine Cinema) dan membuat buku yang berjudul Modernity and Nationality in Vietnamese Cinema dengan Ngo Phuong Lan (2007).

Stanley Kwak (KorSel)

 

Yong-soo Stanley Kwak atau yang lebih dikenal sebagai StanleyKwak adalah CEO Indiestory Inc., satu-satunya distributor film independen di Korea, yang didirikan pada tahun 1998. Sudah lebih dari 650 judul film independen yang didistribusikan oleh Indiestory Inc. Mulai dari feature film, film pendek, film pendek animasi serta dokumenter lokal dan internasional.

 

Stanley yang kelahiran 1968 ini merupakan salah satu pelindustri film yang paling berdedikasi di korea. Sebelunya Stanley pernah menjadi General Manager dan juga sekaligus pendiri Cinematheque Culture Academy Seoul, program selector untuk Indie Form Festival di Korea pada tahun 2000 dan juga Co-Author di A Chronicle of the Blazing Cinema (1995) yang merupakan publikasi special untuk memperingati 100 tahun perayaan Cinematograph. Filmography Stanley Kwak antara lain proyek digital omnibus “One Shining Day” (2005). HD Digital feature “Sundays in August” (2005) dan HD Omnibus project “Fantastic Parasuicides” (2008).

Chalida Uabumringjit (Thailand)

 

Chalida Uabumringjit lahir di China pada tahun 1970 mendalami perfilman di Thammasat University dan pengarsipan film di University of East Anglia, UK. Chalida memulai karirnya sebagai penulis majalah dan koran pada tahun 1992. Filmnya Rain in May di screening do festival animasi internasional ke 6 di Hiroshima. Sekarang ini ia bekerja sebagai project director di Thai Film Foundation. Partisipasinya dalam mendukung film independen yaitu melalui film pendek dan video festival. Chalida juga banyak mengadakan workshop dan screening untuk kaum muda. Chalida juga merupakan direktur Festival Film Anak bangkok sejak tahun 2006.

Alexis Tioseco (Filipina)

 

Alexis Tioseco adalah editor dan seorang pendiri Criticine, sebuah jurnal sinema online Asia Tenggara yang bertujuan memajukan sinema Asia Tenggara. Sebagai kritikus film, tulisannya diterbitkan di beberapa media di Asia, Amerika, dan Eropa seperti The Philippine Daily Inquirer, The an Fransisco Bay-Guardian, Inter-Asia Cultural Studies Journal, Senseofcinema.com, Catalogues for the Torino, Pesaro, dan Cinemanila international Film Festivals. Di tahun 2005 Alexis menjadi programmer MOV di Digital Film Festival, lalu Seoul Film Festival di 2006. Ia juga pernah menjadi salah satu juri di IFFR (Rotterdam) dan terpilih di Berlinale Talent Campus Press pada tahun 2005. Alexis juga anggota FIPRESCI, sebuah kelompok untuk kritik film internasional. Ia juga mengajar sebagai dosen, selama dua tahun belakangan ini di University of Asia and the Pacific 2.

 


 
<span>%d</span> blogger menyukai ini: