tokoh-tokoh film indonesia

 

Setiawan Hanung Bramantyo, lahir di Yogyakarta pada Oktober 1975. Dalam Festival Film Indonesia 2005, ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Brownies (untuk Piala Citra). Ia juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik untu Film cerita lepasnya “Sayekti dan Hanafi”. Pada Festival Film Indonesia 2007 ia kembali mendapatkan piala Citra untuk Sutradara Terbaik dengan Filmnya, Get Married. Tahun 2008, film arahannya yang berjudul Ayat-ayat Cinta mencetak sejarah bioskop Indonesia dengan perolehan penonton yang menakjubkan. Bramantyo pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia namun ia tidak menyelesaikannya. Setelah itu ia pindah mempelajari dunia film di Jurusan Film Fakultas Film dan Televisi IKJ. Film-film Hanung antara lain Jomblo (2006), Lentera Merah (2006), Kamulah Satu-Satunya, Legenda Sundel Bolong.

 

 

 

Slamet Rahardjo lahir di Serang 21 Januari 1949. Lulus dari SMA ia melanjutkanstudi di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) mengambil jurusan Art Directing. Mengawali karier di dunia film sebagai pemain dalam film karya Teguh Karya “Wajah Seorang Laki-laki” (1971).

Tahun 1980 ia manyutradarai film layar lebar pertamanya “Rambulan dan Matahari”. Tahun 1984 dan 1986 ia meraih penghargaan Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia dalam film “Kembang Kertas” dan “Kodrat”. Filmnya yang berjudul “Langitku Rumahku” meraih beberapa penghargaan antara lain: Jacques Demy Awards – Fest 3 Continent, Nantes, France, Best Children Film – Melbourne Film Festival1991, UNICEF Awards – Berlin International Film Festival 1991, dan BRONZ Award 0 Cairo Int Film Festival 1991.

 Eksistensi dan dedikasinya dalam perfilman Indonesia dibuktikan dengan peran aktifnya sebagai anggota di berbagai organisasi film antara lain: Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, Persatuan Karyawan Film dan Televisi indonesia, dan aktif mengejar di Institut Kesenian Indonesia.Eksistensi dan dedikasinya dalam perfilman Indonesia dibuktikan dengan peran aktifnya sebagai anggota di berbagai organisasi film antara lain: Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, Persatuan Karyawan Film dan Televisi indonesia, dan aktif mengejar di Institut Kesenian Indonesia.

 

john-de-rantau

Sutradara muda lulusan Institut Kesenian Jakarta lahir di Padang, Sumatera barat, 2 Januari 1970. Karya terkenalnya antata lain sinetron Ali Topan Anak Jalanan, dan Dara Manisku. Tahun 2004 ia menyutradarai film layar lebar pertamanya, “Mencari Madona” yang skenarionya ditulis bersama Garin Nugroho. Film ini berhasil masuk Singapore Film Festival 2005 dan San ransisco Film Festival 2006. Film terakhirnya, “Denias Senandung di Atas Awan” merupakan box-office di Indonesia dan berhasil masuk panitia seleksi piala Oscar tahun 2008 untuk kategori film Asing. Dari tangan dinginnya, film yang dibintangi Albert Fakdawer, Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen dan Marcella Zalianty berhasil menjadi film terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2006. Selain itu juga mengantarkan Albert Fakdawer sebagai aktor pendatang baru terbaik pada Ajang Indonesia Movie Awards 2007. Dalam Ajang FFI 206 film ini juga meraih Piala Citra untuk kategori Penulis Skenario Cerita Asli terbaik yang ia tulis bersama Jeremias Ngayoen, Masre Ruliat, dan Monty Tiwa.

 

Pada awal karirnya di dunia perfilman Indonesia, ia dikenal sebagai editor dan sutradara teater. Pada FFI 1991 ia meraih Piala Citra sebagai editor terbaik dalam film Cinta Dalam Sepotong Roti. Sampai saat ini ia aktif mengajar sinematografi di beberapa institusi pendidikan film. Sejak 1992 ia banyak menyutradarai film-film pendek, iklan dan serial untuk TV antara lain Sahabat Pilihan, Buana Jaka, Nyah Cemplon, Anak Seribu Pulau, Pustaka Anak Nusantara dan terakhir mini seri Kisah Sebening Kasih. Sejak turut mendirikan SET Film Workshop ia juga banyak menjadi co director film-film Garin Nugroho, antara lain: Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Rindu Kami Padamu.

 

Monty Tiwa adalah seorang penulis lepas dan sutradara, sebelumnya ia terkenal sebagai penulis, pencipta lagu, musisi juga film editor. Monty menyelesaikan studinya di Universitas Kansas, USA. Mendapatkan penghargaan Skenario Terbaik (Film Cerita Lepas) Piala Vidia FFI 2005 dan Penata Sunting Terbaik Piala Citra di FFI 2006 untuk Denias Senandung di Atas Awan. Karyanya sebagai sutradara antara lain Maaf Saya Menghamili Istri Anda, Pocong 3, XL. Kemudian di dalam film Antara Aku, Kau dan Mak Erot dan Kalau Cinta Jangan Cengeng, Monty sekaligus sebagai penulis skenarionya. Naskah-naskah filmnya laris manis di pasaran: Amdai Ia tahu, Vina Bilang Cinta, Biarkan Bintang Menari, 9 Naga, Juli di Bulan Juni, Ujang Pantry 1 dan 2, Mendadak Dangdut, Denias, Pocong 1, Pocong 2, Pocong 3, Dunia Mereka, Mengejar Mas-Mas, Otomatis Romantis, dan Anak Setan.

 

Perempuan kelahiran Jakarta 14 Januari 1973 ini mengabdikan dirinya sebagai pekerja seni. Ibu dari dua anak, Banyu Bening dan Bidari Maharani, tersebut aktif menulis, terutama karya sastra. Buku kumpulan cerpennya yang telah diterbitkan antara lain: Mereka bilang Saya Monyet, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Pendek. Belakangan ia juga terlibat sebagai artis dalam berbagai film antara lain: Koper (Richard Oh), dan Anak-Anak Borobudur (Arswendo Atmowiloto). Lewat kiprahnya dalam dunia perfilman tersebut, Djenar telah berhasil masuk sebagai nominasi artis pendatang baru terbaik RCTI Indonesian Movie Award 2007 dan Aktris Pendatang Baru Tervaforit RCTI Indonesian Movie Award 2007.

 

Sekar Ayu Asmara Lahir di Jakarta lalu tumbuh dan besar di Afghanistan, Turki, dan Belanda. Belajar film secara otodidak, ia memulai karinya dengan menyutradarai sekaligus memproduseri video clip musik dan program televisi. Sekar adalah seorang dengan multi talenta. Ia juga adalah seorang penulis lagu, pelukis, dan novelis. Dua novelnya mendapatkan predikat best seller. Debut film panjangnya pada tahun 2001 adalah CA-BAU-KAN sebagai produser. Lalu dalam film Biola Tak Berdawai. Sekar menjadi sutradara, penulis sekaligus produser. Pun juga pada film-filmnya setelah itu, Belahan Jiwa, Telanjang?, dan Psan dari Surga.


 
<span>%d</span> blogger menyukai ini: